Didikan tanpa Ayah, membuat Aku hilang percaya, Aku yang selalu mencari validasi, Aku yang tidak puas dengan apa yang Aku dapatkan, membuat Aku terpaksa menjadi seorang pencuri. Disaat teman-temanku asik bermain di lapangan sekolah, Aku menyeludup membuka tas temanku, dan mencari incaranku, yaitu mainan itu. Aku puas Aku mendapatkannya, dan Aku senang temanku menderita. Ibu memang tidak pernah mengajariku hal menjijikan itu, tapi Ayahku menyuruhnya bukan? dia pergi berarti dia ingin Anaknya ini mandiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan aku sadar, mencuri adalah satu satunya cara.
Perlakuan teman-teman kami yang membuat kami trauma. Kotoran ayam yang selalu disimpan di atas sendal kami saat kami mengaji. Air ludah yang sengaja itu sampai ke baju, umpatan-umpatan yang dilontarkan. Kami hanya diam, karena kami sadar kami tidak bisa apa.
Banyak trauma yang Aku dapatkan saat itu, Aku tidak percaya laki-laki, Aku takut bercerita, Aku haus validasi, Aku takut untuk menunjukan diri, Aku takut untuk salah, Aku takut semuanya.
Masa kecilku begitu kelam, Aku tidak tahan untuk Aku ceritakan di sini, perlakuan manusia-manusia gila itu membuat Aku dan Sea harus merasakan kepedihan disetiap harinya. Apakah Ibu sadar akan hal itu? apakah Ibu pernah bertanya bagaimana sekolah kami? bagaimana hari kami? Ibu terlalu fokus untuk membiayai kami, sampai dia anggap kami bisa sendiri untuk menghadapi dunia yang kejam ini. Aku ingin mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar