Di dapur, aku melihat Ibu sedang membuat adonan kue, aku menghampirinya seraya membawa buku bacaan 1, "Ibu ini huruf D bukan? Terus kalo ditambah huruf i berarti dibaca di ya?", kala itu aku berusaha dekat dengan ibu, hal hal yang biasa aku aku lakukan sendiri aku mulai membaginya dengan ibu. Cerita sekolah, belajar membaca, berhitung, aku mulai aktif menanyakan selalu kepada ibu. Ibu selalu menyambut antusiasku dengan baik, aku suka itu, aku tidak sendiri lagi.
Umurku sudah menginjak 7 tahun, aku masuk sekolah dasar, lingkungan baru, teman teman baru. Aku mulai beradaptasi, hal yang aku takutkan di lingkungan baru adalah aku takut cacian meraka, takut ejekan mereka. Ibu selalu menguatkanku, ibu selalu meyakinkanku bahwa aku bisa.
Hari pertama aku masuk, aku dan teman teman baruku dikumpulkan di lapangan. Pengenalan sekolah, pengenalan guru, ruangan aku dapatkan di hari itu. Yang paling aku ingat, kami diberi balon satu persatu untuk diterbangkan. Salah satu guru ku bilang,"sebelum kalian terbangkan balon itu, tutup mata kalian dan kalian berdoa, apa yang kalian mau saat itu". Aku mulai memejamkan mata dan berdoa, doaku semoga Ibu selalu baik baik saja.
Beradaptasi tidak mudah bagiku, aku tidak pecaya diri terhadap diriku sendiri. Ketika aku disuruh ke depan kelas untuk berkenalan, aku tidak bisa. Suaraku terlalu kecil, suaraku terlalu kelu untuk dikeluarkan. Lagi lagi mereka besorak karena aku. Aku selalu duduk di belakang bersama temanku, aku tidak berani untuk maju di depan, ada rasa takut, ada rasa gelisah.
Waktu berlalu, ketika pembagian raport aku mendapatkan peringkat ke 3, aku berpikir ternyata aku tidak se bodoh itu, aku bisa menjadi bagian dari siswa pintar di kelas ku, tetapi aku merasa aku tidak pintar, kala itu aku merasa aku hanya beruntung. Naik ke kelas 2, kelasku diacak, dan aku dipaksa harus beradaptasi lagi dengan orang orang baru, ku kira akan lebih buruk dari kelasku dulu, ternyata aku salah, kelasku saat ini sangan supportif, rata rata orang nya asik dan bisa menerima kekurangan satu sama lain.
Banyak hal yang aku lalui dari hari ke hari, aku mulai membiasakan diri dengan hidupku. Yang pergi dari kita sejatinya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ayahku memilih pergi dari hidupku dan adikku, tapi Allah menggantinya dengan orang orang yang lebih baik. Bertahun tahun Ayahku tidak pernah datang, ketika aku menangis terkadang aku merindukan pelukannya, aku menghrapkan ia datang, ketika aku merintih kesakitan kaena jatuh aku berhaap ayahku datang menggendongku seperti anak lainny, namun hal itu tidak pernah sama sekali terjadi.
Satu hari setelah idul fitri, tiba tiba ada seseorang yang datang ke rumah, dia adalah sosok yang pernah aku harapkan kedatangan nya, Ayah datang. Aku menghindar ketika akan dipeluk, jujur aku tidak bahagia Ayah datang, tetapi tidak dengan adikku_Sea, dia bahagia bisa bertemu dengan ayah. Aku diam ketika Ayahku bertanya, aku mengabaikan ayahku. Aku memilih pergi ke rumah nenekku daripada harus bercengkrama dengan seseoang yang sudah lama meninggalkanku. Aku melihat raut mukanya seperti kecewa atas responku, lalu kenapa aku harus memikirkannya, apakah dia pernah mengerti perasaanku, apakah dia pernah datang ketika aku butuh, apakah dia pernah datang untuk mengantarkanku sekolah seperti temanku, apakah dia pernah menghapus tangisku, malah dia lah yang menjadi sumber atas tangisku selama ini.
Ayahku pergi setelah seharian bermain dengan Sea, aku dengar Ayahku sudah menikah lagi, dan tinggal di salah satu kota di Jawa Barat juga. Aku tidak peduli apakah dia sudah menikah atau belum, pada akhirnya akan sama, Ayah tidak akan pernah lagi hidup bersamaku dan Sea.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar