Sejak itu, sejak sosok cinta pertama anak perempuan pergi mengkhianatinya, kepercayaan akan seorang laki-laki sirna. Aku tidak percaya cinta pertama, yang akan aku adalah cinta terkahirku. Dia pergi meninggalkan kesengsaraan untuk anak-anak nya, Aku dan Sea. Hinaan, cacian, dan makian menjadi makanan Aku dan Sea disaat kami sekolah, "Hahaha Ayahnya pergi", "Nggak bisa beli sepeda yaa? makanya cari Ayah baru dong, biar bisa dibeliin". Aku ingat disaat Aku dan Sea bermain sepeda, meminjam sepeda temanku-Zia, Ibunya Zia tiba-tiba datang menarik sepedanya Zia dari hadapanku dan Sea, "jangan sekali kali pinjam sepeda anak saya, minta beliin sana sama ibu kamu". Meskipun Aku dan Sea saat itu hanya bisa diam, tapi aku paham. Aku hanya bersumpah, Aku harus bahagia.
Hidup bertiga, Aku, Sea dan Ibu dalam rumah kecil ini, hanya ada kesengsaraan dan kepedihan tidak membuat Ibu menyerah untuk memperjuangkan kami. Disaat keluargaku yang lain memiliki motor dan mobil, saudara yang seusiaku memiliki Game Remote yang harganya jutaan, tapi Ibu selalu berusaha memberikan yang aku mau, walau itu bekas. Saat itu aku tidak mengerti, mengapa paman bibiku ku selalu mengumpulkan barang bekas anaknya dan disimpan di rumah aku. Yang aku sadari barang-barang mewah akan tetap menjadi barang mewah walau itu bekas. Ibu mencuci baju-baju bekas itu dan setelah kering Aku dan Sea diminta untuk memakainya, Aku bangga memakai baju mewah.
Hari raya adalah hari yang aku tunggu karena saat itu aku akan menerima banyak uang dari Paman Bibiku. Walau, Aku dan Sea harus berjuang saat hari itu. Keluarga Kakekku menerapkan prinsip, Manusia harus ada Jasanya, baru bisa dapat yang dimau yaitu uang. Saat itu Aku dan Sea hanya mengiyakan. Di saat pagi hari saudara sepupuku tidur, Aku dan Sea yang harus gerak cepat ke warung untuk membeli bahan membuat bubur. Layaknya tuan dan raja, mereka hanya tidur dan tau makan saja. Aku dan adikku yang harus melayaninya. Apakah Aku dan Sea itu hanya seorang pelayan untuk cucu cucu Kakekku?.
Aku tidak paham, kenapa di saat keluarga berkumpul, Ibu harus diam di dapur memasak, Aku dan Sea yang harus bolak balik ke warung. Ibu hanya selalu berkata, "kita tidak punya apa-apa untuk berdiam seperti mereka". Bukti cinta mereka dengan uang, dan Ibu tidak punya itu. Saudara seusiaku enak ya, Ibu dan Ayah mereka lengkap, mereka mau ini itu dengan mudah mereka dapatkan. Mereka mendapatkan fasilitas pendidikan yang enak, katanya saudaraku itu akan disekolahkan ke sekolah yang mempunyai Akreditasi unggul, dan bisa masuk perkuliahan yang bagus. Lalu Aku dan Sea? sekolah SD saja sudah Alhamdulillah. Tersenyum sakit, membayangkan Aku berada di posisi mereka.
Siapa yang harus Aku salahkan disaat ini semua terjadi? rasanya Tuhan tidak adil membiarkan Ibu dan kedua anaknya ini terlantar. Hinaan dari keluarga, cacian dari tetangga, bahkan bulying saat itu dinormalisasi. Tidak ada yang bisa disalahkan, kecuali yang namanya Ayah. Sumber dari segala sumbernya masalah kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar