Perlu waktu untuk menyusunnya, layaknya cermin pecah yang berusaha untuk disusun, tidak akan pernah kembali utuh.
-
-
-
-
Aku berdamai dengan keadaanku. Menyalahi Takdir tidak akan ada habisnya, Tuhan benci itu. Bagaimana pun Aku harus terus hidup, mati bukan akhir dari masalah, tapi awal dari masalah yang sesungguhnya. Tuhan masih memberikanku umur yang panjang, Aku, Sea dan Ibu masih bisa mengobrol, tertawa di ruang kecil ini. Tujuan Aku untuk tidak mati sekarang adalah Aku ingin melihat Sea dan Ibu hidup dengan bahagia karena Aku, Aku ingin membangun rumah yang besar untuk kelurga kecilku ini.
Membiarkan waktu berjalan, membiarkan hinaan dan cacian itu hilang dengan sendirinya,
Didikan tanpa Ayah, membuat Aku hilang percaya, Aku yang selalu mencari validasi, Aku yang tidak puas dengan apa yang Aku dapatkan, membuat Aku terpaksa menjadi seorang pencuri. Disaat teman-temanku asik bermain di lapangan sekolah, Aku menyeludup membuka tas temanku, dan mencari incaranku, yaitu mainan itu. Aku puas Aku mendapatkannya, dan Aku senang temanku menderita. Ibu memang tidak pernah mengajariku hal menjijikan itu, tapi Ayahku menyuruhnya bukan? dia pergi berarti dia ingin Anaknya ini mandiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan aku sadar, mencuri adalah satu satunya cara.
Perlakuan teman-teman kami yang membuat kami trauma. Kotoran ayam yang selalu disimpan di atas sendal kami saat kami mengaji. Air ludah yang sengaja itu sampai ke baju, umpatan-umpatan yang dilontarkan. Kami hanya diam, karena kami sadar kami tidak bisa apa.
Banyak trauma yang Aku dapatkan saat itu, Aku tidak percaya laki-laki, Aku takut bercerita, Aku haus validasi, Aku takut untuk menunjukan diri, Aku takut untuk salah, Aku takut semuanya.
Masa kecilku begitu kelam, Aku tidak tahan untuk Aku ceritakan di sini, perlakuan manusia-manusia gila itu membuat Aku dan Sea harus merasakan kepedihan disetiap harinya. Apakah Ibu sadar akan hal itu? apakah Ibu pernah bertanya bagaimana sekolah kami? bagaimana hari kami? Ibu terlalu fokus untuk membiayai kami, sampai dia anggap kami bisa sendiri untuk menghadapi dunia yang kejam ini. Aku ingin mati.
Sejak itu, sejak sosok cinta pertama anak perempuan pergi mengkhianatinya, kepercayaan akan seorang laki-laki sirna. Aku tidak percaya cinta pertama, yang akan aku adalah cinta terkahirku. Dia pergi meninggalkan kesengsaraan untuk anak-anak nya, Aku dan Sea. Hinaan, cacian, dan makian menjadi makanan Aku dan Sea disaat kami sekolah, "Hahaha Ayahnya pergi", "Nggak bisa beli sepeda yaa? makanya cari Ayah baru dong, biar bisa dibeliin". Aku ingat disaat Aku dan Sea bermain sepeda, meminjam sepeda temanku-Zia, Ibunya Zia tiba-tiba datang menarik sepedanya Zia dari hadapanku dan Sea, "jangan sekali kali pinjam sepeda anak saya, minta beliin sana sama ibu kamu". Meskipun Aku dan Sea saat itu hanya bisa diam, tapi aku paham. Aku hanya bersumpah, Aku harus bahagia.
Hidup bertiga, Aku, Sea dan Ibu dalam rumah kecil ini, hanya ada kesengsaraan dan kepedihan tidak membuat Ibu menyerah untuk memperjuangkan kami. Disaat keluargaku yang lain memiliki motor dan mobil, saudara yang seusiaku memiliki Game Remote yang harganya jutaan, tapi Ibu selalu berusaha memberikan yang aku mau, walau itu bekas. Saat itu aku tidak mengerti, mengapa paman bibiku ku selalu mengumpulkan barang bekas anaknya dan disimpan di rumah aku. Yang aku sadari barang-barang mewah akan tetap menjadi barang mewah walau itu bekas. Ibu mencuci baju-baju bekas itu dan setelah kering Aku dan Sea diminta untuk memakainya, Aku bangga memakai baju mewah.
Hari raya adalah hari yang aku tunggu karena saat itu aku akan menerima banyak uang dari Paman Bibiku. Walau, Aku dan Sea harus berjuang saat hari itu. Keluarga Kakekku menerapkan prinsip, Manusia harus ada Jasanya, baru bisa dapat yang dimau yaitu uang. Saat itu Aku dan Sea hanya mengiyakan. Di saat pagi hari saudara sepupuku tidur, Aku dan Sea yang harus gerak cepat ke warung untuk membeli bahan membuat bubur. Layaknya tuan dan raja, mereka hanya tidur dan tau makan saja. Aku dan adikku yang harus melayaninya. Apakah Aku dan Sea itu hanya seorang pelayan untuk cucu cucu Kakekku?.
Aku tidak paham, kenapa di saat keluarga berkumpul, Ibu harus diam di dapur memasak, Aku dan Sea yang harus bolak balik ke warung. Ibu hanya selalu berkata, "kita tidak punya apa-apa untuk berdiam seperti mereka". Bukti cinta mereka dengan uang, dan Ibu tidak punya itu. Saudara seusiaku enak ya, Ibu dan Ayah mereka lengkap, mereka mau ini itu dengan mudah mereka dapatkan. Mereka mendapatkan fasilitas pendidikan yang enak, katanya saudaraku itu akan disekolahkan ke sekolah yang mempunyai Akreditasi unggul, dan bisa masuk perkuliahan yang bagus. Lalu Aku dan Sea? sekolah SD saja sudah Alhamdulillah. Tersenyum sakit, membayangkan Aku berada di posisi mereka.
Siapa yang harus Aku salahkan disaat ini semua terjadi? rasanya Tuhan tidak adil membiarkan Ibu dan kedua anaknya ini terlantar. Hinaan dari keluarga, cacian dari tetangga, bahkan bulying saat itu dinormalisasi. Tidak ada yang bisa disalahkan, kecuali yang namanya Ayah. Sumber dari segala sumbernya masalah kami.
Hari hari yang selalu sama seakan memenggal pikiran Gilih, gadis remaja yang hidup di desa dengan sejuta warna penderitaan membentuk Gilih ini menjadi seorang gadis yang lebih dewasa dibanding anak seusianya. Pergi, adalah salah satu impian gadis itu sejak kecil. Entah kemana asalkan tidak berada di tempat ia sekarang. Panggil saja Gilih, ia adalah Aku, tidak mudah menceritakan kisahku dalam ribuan kalimat seperti ini, tapi lebih tak kuat lagi jika ribuan penderitaan aku pendam dalam pikiranku yang mungkin sebentar lagi akan membeludak.
Sebuah kota di Jawa Barat, dikenal dengan sebutan kota Tauco adalah tempat tinggalku. Aku terlahir dari keluarga yang tidak sempurna, Ayah dan Ibuku berpisah ketika aku memasuki sekolah TK. Saat liburan sekolah seluruh teman temanku utuh bersama kedua orang tuanya, tapi aku? berdua dengan ibuku saja. Jujur saja aku selalu iri kepada mereka yang selalu mendapatkan kasih sayang utuh, nangis sepertinya sudah menjadi temanku dari sejak dulu.
Kala itu aku tidak mengerti alasan mereka berpisah, reka ulang saat tangisan ibuku pecah pada kejadian itu selalu terbayang. Dalam ruangan yang kecil, aku bersama teman temanku yang sedang asik menonton acara di sebuah stasiun televisi, saat itu ada adegan di mana pemeran utamanya menangis, tetapi semakin lama suara tangisan itu semakin kencang dan lama, padahal kala itu si pemeran utama sudah tidak menangis. Tunggu dan ku tunggu ternyata tidak berhenti, akhirnya aku dan teman temanku mengetahui sumber dari suara tangisan itu, suara ibuku yang sedang menangis di dalam kamar ternyata. Teman temanku pulang tanpa aku suruh, mereka pergi meninggalkanku sendiri. Aku mendekati ibuku yang semakin lama semakin kencang suara tangisannya, tiba tiba ayahku membuka pintu rumah dengan kencang, aku tersentak kaget, aku bersembunyi di belakang tubuh ibuku.
Sebuah tamparan mendarat di pipi ayahku, lembaran uang melayang, ibuku berteriak, dan aku mencoba bertanya pada ibuku, "Mahhh, kenapa Ayah ditampar", perdebatan dimulai di depan penglihatanku. Apakah mereka tidak memikirkan perasaanku saat itu? Terlalu kaget untuk aku yang kala itu belum mengetahui apapun, melihat pertengkaran hebat seperti itu. Kalimat yang terlontar ibuku yang aku masih ingat dan selalu terngiang ngiang di isi kepalaku "Aku ingin cerai", aku tidak paham apa itu cerai, tetapi tiba tiba saja ayahku membereskan barang barang nya, baju baju, peralatan dan lainnya. Para tetangga yang selalu saja ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, menyaksikan peristiwa itu. Kata kata kasar, umpatan umpatan dikeluarkan Ayahku. Ayah mencari adikku-Sea yang sedang bermain, dan menyeretnya untuk pergi bersamanya. Tangisan Ibuku semakin menjadi ketika melihat adikku dibawa oleh Ayah. Tidak berselang lama, Ayahku dengan membawa adikku meninggalkan Aku dan Ibuku berdua di rumah.
Rumahku tiba tiba ramai, Nenek dan Kakekku memeluk ibuku, aku melihat semua ini bingung, aku tidak mengerti, dan aku memutuskan untuk menangis. Menangis solusiku untuk menarik perhatian mereka, mereka yang mengabaikanku, mereka yang tidak menjelaskan semuanya, mereka yang ah sudahlah. Sejak hari itu suasana rumahku berubah total, Ibuku menjadi lebih pendiam, tidak ada suara adikku yang selalu minta ditemani main, tidak ada suara ayahku yang selalu menyuruhku untuk ke warung dan dibuatkan kopi, aku kesepian. Senin, selasa, rabu dan seterusnya selalu sama, aku kesepian. Dan sejak saat itu aku paham bahwa ayahku dan adikku tidak akan kembali lagi. Berminggu minggu tak ada hari yang aku tunggu selain menunggu Ibu dan Ayahku bersatu, bertemu dengan adikku, dan semuanya kembali seperti dulu.
Pagi saat aku bermain bersama temanku di pelataran rumah, tiba tiba aku mendengar suara adikku " tetehhhh", sepertinya aku terlalu merindukan adikku yang sudah lama tak bertemu. Dari belakang ada sebuah pelukan, tangan kecil itu aku tahu persis, itu tangan adikku Sea. Lagi lagi aku menangis, aku merindukan pelukan adik kecilku ini. Saat aku melepaskan pelukannya, aku melihat di depan sana ada Ayah, tapi Ayah tidak mendekatiku, "Ayahhhh...." aku berteriak memanggilnya, tapi kakinya perlahan mundur, lambaian tangannya seolah mengisyaratkan perpisahan antara kami. Ayahku pergi meninggalkan Sea dengan ku.
Ibuku kaget dengan kehadiran Sea, tangisnya lagi lagi pecah, Ibu menarik tubuh mungil Sea dan memeluknya. Satu fakta yang aku mulai mengerti, Sea akan kembali bersama kami, namun tidak dengan Ayah. Satu persatu aku selalu berharap semuanya akan kembali seperti dulu. Sekarang Sea semoga besok ayah yang kembali pulang dan berkumpul di ruang keluarga seperti kala itu.
Sea bercerita, dia dibawa ke sebuah rumah yang besar, di sana banyak orang beraneka ragam umurnya, ada yang tua sampai muda seperti umurnya Sea yaitu 4 tahun. Ada satu orang Nenek tua, kata ayah dia harus memanggilnya Nenek, tapi dia tidak mau karena yang Sea tau Nenek nya hanya ada satu yaitu Nenek yang ada di rumah sebelah. Anak seumurannya katanya jahat jahat, mereka tidak mau meminjamkan mainan kepada Sea. Sea memilih pulang karena selalu nangis merindukan Ibu dan Aku. Awalnya Ayah tidak mengijinkan Sea untuk pulang, tapi Sea selalu menangis, seolah mengancam Ayahku bahwa dia tidak akan berhenti menangis jika dia tidak bertemu Ibu dan Aku.
Tidak terasa, Aku masuk sekolah pertama kali, yaitu sekolah Taman Kanak kanak. Awalnya aku tidak mau sekolah karena tidak tidak ada Ayah di sampingku, di saat semua anak seusiaku diantarkan oleh kedua orang tuanya untuk pertama kali sekolah, tetapi saat itu hanya ibuku saja yang mengantarkanku. Aku marah kepada Ibuku, kenapa Ayah tak kunjung pulang. Beberapa bulan saat aku masuk sekolah TK, aku merasa ada yang salah dalam diriku. Kehilangan sosok Ayah membuat aku menjadi anak yang pembangkang, saat itu aku merasa ini semua salah Ibuku. Aku selalu sensitif terhadap masalah yang kecil, nangis dan nangis adalah caraku agar membuat Ibu merasa kesal. Semua baju Ibuku dirobek olehku, semua peralatan rumah aku lempar ke kolam di depan rumah. Ada hal di mana aku tidak diberi uang jajan, aku marah, meja yang ukurannya besar mampu aku banting padahal saat itu umurku masih 5 tahun. Bahkan bangunan rumah, aku rusak rusak sampai beberapa bagian harus direnovasi.
Aku lelah, aku capek, saat itu ada keinginan aku untuk mengakhiri hidup, saat aku nangis aku selalu membawa gunting atau pisau, dengan harapan aku bisa mati saat itu. Jari jempol selalu aku tarik tarik, berharap bisa putus dari bagiannya. Tapi segala cara aku coba untuk mengakhiri hidup, Ibu selalu memarahiku, dan mengancam akan membuangku. Pikirku saat itu dibuang akan lebih menderita dibanding mati. Ibuku jahat pikirku dulu, memisahkan Aku dan Sea dari Ayah.
Tak lepas masalah di rumah, sekolah ku menjadi tempat masalah keduaku. Pembulian aku alami, cacian makian yang dilontarkan untukku membuat aku menjadi anak yang pendiam. Hidup tanpa sosok ayah saat itu menjadi aib bagiku, aku malu tidak mempunyai Ayah, di mana sosok yang katanya disebut Ayah disaat semua ayah dari temanku selalu mengantarkan sekolah dan menjemputnya. Dimana ayahku? kenapa Ibu yang harus banting tulang bekerja untuk membiayai anak anaknya.
Aku selalu melihat Ibu bangun pagi untuk berjualan, pergi kesana kesini mencari pekerjaan.Waktu ke waktu Aku mulai sadar, Ayahku yang salah bukan Ibu. Sejak lambaian tangan itu, Ayah tidak pernah datang menampakkan wajahnya. Ayah membiarkan Ibu bekerja dan meninggalkan anak anaknya. Aku benci Ayah.
Ibu berjuang demi Aku dan Sea, tidak ada kata lelah yang terucap dari mulutnya. Aku ingat, Ibu pernah berjualan berbagai macam masakan, berjualan ciki atau makanan anak anak. Aku akui, dulu aku anak yang durhaka, selalu membuat Ibu marah, tidak pernah membantunya berjualan, tidak pernah bertanya apakah dia capek atau lelah. Aku sayang Ibu.
Di dapur, aku melihat Ibu sedang membuat adonan kue, aku menghampirinya seraya membawa buku bacaan 1, "Ibu ini huruf D bukan? Terus kalo ditambah huruf i berarti dibaca di ya?", kala itu aku berusaha dekat dengan ibu, hal hal yang biasa aku aku lakukan sendiri aku mulai membaginya dengan ibu. Cerita sekolah, belajar membaca, berhitung, aku mulai aktif menanyakan selalu kepada ibu. Ibu selalu menyambut antusiasku dengan baik, aku suka itu, aku tidak sendiri lagi.
Umurku sudah menginjak 7 tahun, aku masuk sekolah dasar, lingkungan baru, teman teman baru. Aku mulai beradaptasi, hal yang aku takutkan di lingkungan baru adalah aku takut cacian meraka, takut ejekan mereka. Ibu selalu menguatkanku, ibu selalu meyakinkanku bahwa aku bisa.
Hari pertama aku masuk, aku dan teman teman baruku dikumpulkan di lapangan. Pengenalan sekolah, pengenalan guru, ruangan aku dapatkan di hari itu. Yang paling aku ingat, kami diberi balon satu persatu untuk diterbangkan. Salah satu guru ku bilang,"sebelum kalian terbangkan balon itu, tutup mata kalian dan kalian berdoa, apa yang kalian mau saat itu". Aku mulai memejamkan mata dan berdoa, doaku semoga Ibu selalu baik baik saja.
Beradaptasi tidak mudah bagiku, aku tidak pecaya diri terhadap diriku sendiri. Ketika aku disuruh ke depan kelas untuk berkenalan, aku tidak bisa. Suaraku terlalu kecil, suaraku terlalu kelu untuk dikeluarkan. Lagi lagi mereka besorak karena aku. Aku selalu duduk di belakang bersama temanku, aku tidak berani untuk maju di depan, ada rasa takut, ada rasa gelisah.
Waktu berlalu, ketika pembagian raport aku mendapatkan peringkat ke 3, aku berpikir ternyata aku tidak se bodoh itu, aku bisa menjadi bagian dari siswa pintar di kelas ku, tetapi aku merasa aku tidak pintar, kala itu aku merasa aku hanya beruntung. Naik ke kelas 2, kelasku diacak, dan aku dipaksa harus beradaptasi lagi dengan orang orang baru, ku kira akan lebih buruk dari kelasku dulu, ternyata aku salah, kelasku saat ini sangan supportif, rata rata orang nya asik dan bisa menerima kekurangan satu sama lain.
Banyak hal yang aku lalui dari hari ke hari, aku mulai membiasakan diri dengan hidupku. Yang pergi dari kita sejatinya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ayahku memilih pergi dari hidupku dan adikku, tapi Allah menggantinya dengan orang orang yang lebih baik. Bertahun tahun Ayahku tidak pernah datang, ketika aku menangis terkadang aku merindukan pelukannya, aku menghrapkan ia datang, ketika aku merintih kesakitan kaena jatuh aku berhaap ayahku datang menggendongku seperti anak lainny, namun hal itu tidak pernah sama sekali terjadi.
Satu hari setelah idul fitri, tiba tiba ada seseorang yang datang ke rumah, dia adalah sosok yang pernah aku harapkan kedatangan nya, Ayah datang. Aku menghindar ketika akan dipeluk, jujur aku tidak bahagia Ayah datang, tetapi tidak dengan adikku_Sea, dia bahagia bisa bertemu dengan ayah. Aku diam ketika Ayahku bertanya, aku mengabaikan ayahku. Aku memilih pergi ke rumah nenekku daripada harus bercengkrama dengan seseoang yang sudah lama meninggalkanku. Aku melihat raut mukanya seperti kecewa atas responku, lalu kenapa aku harus memikirkannya, apakah dia pernah mengerti perasaanku, apakah dia pernah datang ketika aku butuh, apakah dia pernah datang untuk mengantarkanku sekolah seperti temanku, apakah dia pernah menghapus tangisku, malah dia lah yang menjadi sumber atas tangisku selama ini.
Ayahku pergi setelah seharian bermain dengan Sea, aku dengar Ayahku sudah menikah lagi, dan tinggal di salah satu kota di Jawa Barat juga. Aku tidak peduli apakah dia sudah menikah atau belum, pada akhirnya akan sama, Ayah tidak akan pernah lagi hidup bersamaku dan Sea.