Hari hari yang selalu sama seakan memenggal pikiran Gilih, gadis remaja yang hidup di desa dengan sejuta warna penderitaan membentuk Gilih ini menjadi seorang gadis yang lebih dewasa dibanding anak seusianya. Pergi, adalah salah satu impian gadis itu sejak kecil. Entah kemana asalkan tidak berada di tempat ia sekarang. Panggil saja Gilih, ia adalah Aku, tidak mudah menceritakan kisahku dalam ribuan kalimat seperti ini, tapi lebih tak kuat lagi jika ribuan penderitaan aku pendam dalam pikiranku yang mungkin sebentar lagi akan membeludak.
Sebuah kota di Jawa Barat, dikenal dengan sebutan kota Tauco adalah tempat tinggalku. Aku terlahir dari keluarga yang tidak sempurna, Ayah dan Ibuku berpisah ketika aku memasuki sekolah TK. Saat liburan sekolah seluruh teman temanku utuh bersama kedua orang tuanya, tapi aku? berdua dengan ibuku saja. Jujur saja aku selalu iri kepada mereka yang selalu mendapatkan kasih sayang utuh, nangis sepertinya sudah menjadi temanku dari sejak dulu.
Kala itu aku tidak mengerti alasan mereka berpisah, reka ulang saat tangisan ibuku pecah pada kejadian itu selalu terbayang. Dalam ruangan yang kecil, aku bersama teman temanku yang sedang asik menonton acara di sebuah stasiun televisi, saat itu ada adegan di mana pemeran utamanya menangis, tetapi semakin lama suara tangisan itu semakin kencang dan lama, padahal kala itu si pemeran utama sudah tidak menangis. Tunggu dan ku tunggu ternyata tidak berhenti, akhirnya aku dan teman temanku mengetahui sumber dari suara tangisan itu, suara ibuku yang sedang menangis di dalam kamar ternyata. Teman temanku pulang tanpa aku suruh, mereka pergi meninggalkanku sendiri. Aku mendekati ibuku yang semakin lama semakin kencang suara tangisannya, tiba tiba ayahku membuka pintu rumah dengan kencang, aku tersentak kaget, aku bersembunyi di belakang tubuh ibuku.
Sebuah tamparan mendarat di pipi ayahku, lembaran uang melayang, ibuku berteriak, dan aku mencoba bertanya pada ibuku, "Mahhh, kenapa Ayah ditampar", perdebatan dimulai di depan penglihatanku. Apakah mereka tidak memikirkan perasaanku saat itu? Terlalu kaget untuk aku yang kala itu belum mengetahui apapun, melihat pertengkaran hebat seperti itu. Kalimat yang terlontar ibuku yang aku masih ingat dan selalu terngiang ngiang di isi kepalaku "Aku ingin cerai", aku tidak paham apa itu cerai, tetapi tiba tiba saja ayahku membereskan barang barang nya, baju baju, peralatan dan lainnya. Para tetangga yang selalu saja ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, menyaksikan peristiwa itu. Kata kata kasar, umpatan umpatan dikeluarkan Ayahku. Ayah mencari adikku-Sea yang sedang bermain, dan menyeretnya untuk pergi bersamanya. Tangisan Ibuku semakin menjadi ketika melihat adikku dibawa oleh Ayah. Tidak berselang lama, Ayahku dengan membawa adikku meninggalkan Aku dan Ibuku berdua di rumah.
Rumahku tiba tiba ramai, Nenek dan Kakekku memeluk ibuku, aku melihat semua ini bingung, aku tidak mengerti, dan aku memutuskan untuk menangis. Menangis solusiku untuk menarik perhatian mereka, mereka yang mengabaikanku, mereka yang tidak menjelaskan semuanya, mereka yang ah sudahlah. Sejak hari itu suasana rumahku berubah total, Ibuku menjadi lebih pendiam, tidak ada suara adikku yang selalu minta ditemani main, tidak ada suara ayahku yang selalu menyuruhku untuk ke warung dan dibuatkan kopi, aku kesepian. Senin, selasa, rabu dan seterusnya selalu sama, aku kesepian. Dan sejak saat itu aku paham bahwa ayahku dan adikku tidak akan kembali lagi. Berminggu minggu tak ada hari yang aku tunggu selain menunggu Ibu dan Ayahku bersatu, bertemu dengan adikku, dan semuanya kembali seperti dulu.
Pagi saat aku bermain bersama temanku di pelataran rumah, tiba tiba aku mendengar suara adikku " tetehhhh", sepertinya aku terlalu merindukan adikku yang sudah lama tak bertemu. Dari belakang ada sebuah pelukan, tangan kecil itu aku tahu persis, itu tangan adikku Sea. Lagi lagi aku menangis, aku merindukan pelukan adik kecilku ini. Saat aku melepaskan pelukannya, aku melihat di depan sana ada Ayah, tapi Ayah tidak mendekatiku, "Ayahhhh...." aku berteriak memanggilnya, tapi kakinya perlahan mundur, lambaian tangannya seolah mengisyaratkan perpisahan antara kami. Ayahku pergi meninggalkan Sea dengan ku.
Ibuku kaget dengan kehadiran Sea, tangisnya lagi lagi pecah, Ibu menarik tubuh mungil Sea dan memeluknya. Satu fakta yang aku mulai mengerti, Sea akan kembali bersama kami, namun tidak dengan Ayah. Satu persatu aku selalu berharap semuanya akan kembali seperti dulu. Sekarang Sea semoga besok ayah yang kembali pulang dan berkumpul di ruang keluarga seperti kala itu.
Sea bercerita, dia dibawa ke sebuah rumah yang besar, di sana banyak orang beraneka ragam umurnya, ada yang tua sampai muda seperti umurnya Sea yaitu 4 tahun. Ada satu orang Nenek tua, kata ayah dia harus memanggilnya Nenek, tapi dia tidak mau karena yang Sea tau Nenek nya hanya ada satu yaitu Nenek yang ada di rumah sebelah. Anak seumurannya katanya jahat jahat, mereka tidak mau meminjamkan mainan kepada Sea. Sea memilih pulang karena selalu nangis merindukan Ibu dan Aku. Awalnya Ayah tidak mengijinkan Sea untuk pulang, tapi Sea selalu menangis, seolah mengancam Ayahku bahwa dia tidak akan berhenti menangis jika dia tidak bertemu Ibu dan Aku.
Tidak terasa, Aku masuk sekolah pertama kali, yaitu sekolah Taman Kanak kanak. Awalnya aku tidak mau sekolah karena tidak tidak ada Ayah di sampingku, di saat semua anak seusiaku diantarkan oleh kedua orang tuanya untuk pertama kali sekolah, tetapi saat itu hanya ibuku saja yang mengantarkanku. Aku marah kepada Ibuku, kenapa Ayah tak kunjung pulang. Beberapa bulan saat aku masuk sekolah TK, aku merasa ada yang salah dalam diriku. Kehilangan sosok Ayah membuat aku menjadi anak yang pembangkang, saat itu aku merasa ini semua salah Ibuku. Aku selalu sensitif terhadap masalah yang kecil, nangis dan nangis adalah caraku agar membuat Ibu merasa kesal. Semua baju Ibuku dirobek olehku, semua peralatan rumah aku lempar ke kolam di depan rumah. Ada hal di mana aku tidak diberi uang jajan, aku marah, meja yang ukurannya besar mampu aku banting padahal saat itu umurku masih 5 tahun. Bahkan bangunan rumah, aku rusak rusak sampai beberapa bagian harus direnovasi.
Aku lelah, aku capek, saat itu ada keinginan aku untuk mengakhiri hidup, saat aku nangis aku selalu membawa gunting atau pisau, dengan harapan aku bisa mati saat itu. Jari jempol selalu aku tarik tarik, berharap bisa putus dari bagiannya. Tapi segala cara aku coba untuk mengakhiri hidup, Ibu selalu memarahiku, dan mengancam akan membuangku. Pikirku saat itu dibuang akan lebih menderita dibanding mati. Ibuku jahat pikirku dulu, memisahkan Aku dan Sea dari Ayah.
Tak lepas masalah di rumah, sekolah ku menjadi tempat masalah keduaku. Pembulian aku alami, cacian makian yang dilontarkan untukku membuat aku menjadi anak yang pendiam. Hidup tanpa sosok ayah saat itu menjadi aib bagiku, aku malu tidak mempunyai Ayah, di mana sosok yang katanya disebut Ayah disaat semua ayah dari temanku selalu mengantarkan sekolah dan menjemputnya. Dimana ayahku? kenapa Ibu yang harus banting tulang bekerja untuk membiayai anak anaknya.
Aku selalu melihat Ibu bangun pagi untuk berjualan, pergi kesana kesini mencari pekerjaan.Waktu ke waktu Aku mulai sadar, Ayahku yang salah bukan Ibu. Sejak lambaian tangan itu, Ayah tidak pernah datang menampakkan wajahnya. Ayah membiarkan Ibu bekerja dan meninggalkan anak anaknya. Aku benci Ayah.
Ibu berjuang demi Aku dan Sea, tidak ada kata lelah yang terucap dari mulutnya. Aku ingat, Ibu pernah berjualan berbagai macam masakan, berjualan ciki atau makanan anak anak. Aku akui, dulu aku anak yang durhaka, selalu membuat Ibu marah, tidak pernah membantunya berjualan, tidak pernah bertanya apakah dia capek atau lelah. Aku sayang Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar